Keep Our Brotherhood

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
Selamat Datang di Blog Saya dan terima kasih atas kunjungannya, jangan lupa kasih sarannya di Guestbook yach
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Surat Untuk Asih

Posted by Bud-Kar Blog - -

Malam itu …, baginya merupakan malam kebulatan tekad. Dia mencoba mencurahkan segala kemampuannya untuk mengubah segalanya. Dia harus mengubah arah, mengubah sikap, dan mengalihkan perhatian. Lebih jauh lagi, dia harus mengubah isi hatinya yang teramat dalam dengan satu kebijakan, satu ketulusan, satu keikhlasan. Dia di tuntut untuk mengorbankan perasaan. Malam itu…, sengaja dia persiapkan.
            Dia duduk termenung, membayangkan sosok tubuh yang menjadi sasaran. Dia mencoba mempertimbangkan hal-hal yang mungkin terjadi setelah dia mengambil keputusan. Malam itu perhatian dan konsentrasinya tertuju penuh kea rah itu.
            “Assalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh …!”  Dia memulainya dengan salam pembukaan.  “Asih …, sebenarnya aku teramat saying padamu. Aku teramat mencintaimu. Aku…,  “  Penanya mendadak berhenti, seolah-olah kehilangan kata hati.
            Dibacanya goresan yang belum seberapa itu, lalu dicoretnya kembali.
            “Kenapa harus harus katakana cinta ? Kenapa harus katakana saying ? Bukankah kata-kata itu hanya akan menambah dia menderita ?” Kutuknya dalam hati sambil menghisap bagian belakang pena, persis seperti menghisap cerutu. Tak lama kemudian dikeluarkannya kumpalan-kumpalan keluh.
            “Assalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh … !”  Dia memulai lagi
            “Asih…, maafkan aku ! Aku telah membuatmu terluka. Aku telah membuatmu menderita. Aku telah menodai persahabatan dengan kata-kata cinta. Aku …, “  Lagi-lagi penanya terhenti, tersumbat oleh ganjalan jiwa.
            Tanpa dibacanya lagi, goresan itu dicoretnya kembali. “Tuhan …, berilah aku jalan  keluar keluar…, aku tak ingin menyinggung perasaannya, apalagi menyakiti hatinya. Dengan surat yang akan ku kirim ini, aku ingin melihatnya gembira, aku ingin melihatnya bahagia. Bukan sebalinya, ya Allah … !”  Ratapnya dalam hati, sambil menutup muka dengan ke dua tangannya. Terlintas dibenaknya saa duduk berdua bersama Asih di rumah seorang penduduk ketika dia mengunjungi kakek dan neneknya di pedesaan.
            “Aku telah dijodohkan, Ben …”
            “Dijodohkan ?”
            “Iya… “
            “Dengan siapa ?”
            “Aku …, aku tak berani mengatakannya, Ben”
            “Kenapa …?”
            “Maafkan aku, Ben ,  maafkan aku … !
            “Iya sudah, kalau kamu tidak berani mengatakannya. Tapi…, kalau boleh aku tahu, sejak kapan kamu orang tuamu menjodohkanmu ?”
            “Yang menjodohkan aku bukan orang tuaku, Ben. Tapi… guru ngajiku “
            “Guru ngaji ? Kamu mau, dijodohkan oleh guru ngaji ?”
            “Maafkan aku, Ben.  Aku telah terikat dengan sebuah pengajian. Dimana …, aku harus menuruti apa yang dikatakan oleh guruku. “
            “Huuuuh…, Dia mengeluh dengan mata berkaca-kaca. Kedua tangannya berpindah ke kepala. Direman-remasnya rambutnya yang kusut hingga semakin kusut. Sekusut pikiran dan perasaannya saat itu.
            Malam semakin larut. Niatnya untuk membuat sepucuk surat belum  juga terwujud. Namun , tekadnya tetap utuh. Tak ada tanda-tanda untuk menangguhkan, apalagi membatalkannya. Dia berdiri. Menggerakan tubuhnya yang teras berkerut, lalu duduk kembali. Pandangannya kembali diarahkan pada lembaran-lembaran kertas yang sengaja dia persiapkan.
“Assalaamu alaikum …! Kali ini, dia tidak menyempurnakan salam pembukaannya.
“Asih…, sebelum aku menyatakan sesuatu padamu, simaklah dulu puisi-puisiku ini … “

Tahukah Kau

Malam dingin, hening
Aku berbaring
Terkenang
Terbayang
Oh
Kau
Aku
Senang
Tapi
Kenapa kau terbang
Kenapa kau menghilang
Kau tahu
Aku bingung
Aku bimbang
Rindu
Cemburu
Menyatu
Kau tahu
Hati ini
Jiwa ini
Bergolak bak timah mendidih
Panas
Tiada tertahan
Kau tahu
Aku jatuh cinta
Padamu
Bagaimana
Apa kau terima ?

Bisikan Kalbu

Aduhai jiwa
Kau merana
Kau tersiksa
Kau tega
Kejam
Tanpa perasaan

Kau kurung aku
Dalam teralis rindu
Kau kejam
Tanpa perasaan
Kau biarkan aku dalam kehampaan

Kau tampakan ketegaran
Kekokohan
Kemandirian
Padahal
Hasratmu terkubur
Kau hancur

Aduhai jiwa
Sampai kapan kau bertahan
Memndam rasa
Mengekang angan
Membiarkan aku bergolak
Membiarkan aku meronta

Wahai jiwa yang terlena
Bawalah aku ke tempat indah penuh pesona
Dengarkan bisikanku
Gunakan logikamu
Lihatlah bunga yang paling kau suka
Adakah terbebas dari incaran kumbang ?

Sakit dalam Sehat

Disini
Aku tersiksa perasaan
Disana
Aku tak tahu

Kau
Gadis berwajah sendu
Adakah getar-getar rindu dihatimu
Untuk ku

Oh
Andai kau tahu sukmaku
Andai kau tahu perasaanku
Kau kan iba melihatku

Aku sakit dalam sehat
Aku luka dalam suka
Aku merana
Aku tersiksa

Ingin rasanya aku berlari
Meninggalkan benih-benih cinta ini
Namun, aku tak mampu
Seribu bayangmu selalu mengejarku

Kau
Gadis berwajah sendu
Tidakah sang bayu bercerita padamu
Tentang keadaanku

Wahai gadis berwajah sendu
Aku butuh obat
Resepnya ada padamu
Tegakah kau biarkan aku ?

            Tiada kesulitan dia menuliskan puisi-puisi itu, karena semuanya telah lama dia susun. Puisi-puisi itulah yang menjadi saksi cintanya pada Asih, hanya saja mereka tak dapat berkata-kata. Mereka tak dapat bercerita. Mereka tertidur lelap di bawah himpitan buku-buku.
            “Asih…,”  Dia meneruskan isi suratnya. “Lihatlah… ! Petapa lemahnya hatiku, petapa rapuhnya jiwaku dalam menghadapi semuanya ini. Aku lebih suka berterus terang pada buku dari pada langsung pada orang yang ku tuju. Namun, bagaimanapun akhirnya kau tahu juga kalau aku mencintaimu, kalau aku menyayangimu.  Aku yakin inilah yang membuatmubingung, inilah yang membuatmu murung. Kau tak sanggup membuat keputusan, kau tak sanggup memberikan jawaban. Kau penuh pertimbangan. Kalau saja kau tak sempat tahu, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini. Maafkan aku saying …” Bergetar seluruh tubuhnya, saat  menuliskan kata terkahir itu. Ada hasrat untuk menghapusnya kembali, namun hati kecilnya berontak. Biar, biarkan kata itu di situ…! Demikian suara hati kecilnya
            “Asih…, kalau benar apa yang tempo hari kau katakan, kalau benar kau telah dijodohkan, terimalah dia sebagai pemberian terbesar dalam hidupmu. Yakinlah sayang …, kau kan dapatkan kebahagiaan, meski tak berawalkan percintaan…” Dia menghentikan gerakan penanya, karena lengannya mendadak gemetar, terdorong oleh amukan sukma yang tak mau menerima.
            Dia berusaha menenangkan diri dengan mendengarkan bisikan hati kecilnya yang selalu bertindak bijaksana. Kalau mempertahankannya, berarti menambah beban penderitaannya. Apa kau tak kasihan ?  Demikian, bisikan hati kecilnya
            “Asih…,  kalau kau menerima perjodohan itu, berarti engkau telah mengambil jalan keluar dengan tindakan, bukan dengan perasaan, dan tentunya hal itu akan lebih baik bagimu. Sebab kalau kau memperturutkan perasaan, tentunya engkau tidak akan tega dengan nasib yang aku alami.  Engkau akan merasa berdosa, yang pada akhirnya kamupun akan menderita. Itu tak kuinginkan sama sekali Asihku…,  Melalui surat ini aku sarankan, terimalah perjodohan itu. Bukankah pernyataan gurumu lebih dulu dari terbongkarnya kuburan cintaku ?” Kembali tangannya bergetar akibat kecamuk dalam batinnya.
            “Asih…,” Kembali dia meneruskan goresan penanya. “Dalam lemah sering ku menghayal membayangkan hal-hal yang belum atau tak mungkin terjadi. Namun, khayalanku yang satu ini benar-benar terjadi, dan menimpa diriku sendiri. Aku menyesal dengan puisi yang kubuat jauh sebelum aku tahu kau dijodohkan oleh guru ngajimu itu. Cobalah kau simak !

Tersisih

Ingin rasanya hati ini
Mengikuti jejak orang berperahu
Meniti titian pantai
Menembus gelombang lautan
Oh
Terbayang olehku
Sejuknya napas lautan
Syahdunya irama gelombang
Mataku pasti terpejam
Dan
Oh
Tak terlukiskan
Senang
Tenang
Tentram
Namun
Aku sulit dapatkan perahu
Satu-satunya yang ku mau
Tlah lebih dulu di ambil orang
Aku terlambat datang
Aku kalah
Aku lemah
Aku marah
Darahku panas mengalir
Aku berpikir
Haruskah tangan ku kepal
Haruskah dia ku hajar ?

            “Asih…, bagiku sekarang, tiada jalan lain kecuali tawakal pada Penguasa alam. Seberat apapun aku akan mencoba mengubah segalanya. Kalau dulu aku mencintaimu sebagai kekasih walau  kau tak tahu, akan ku ubah dengan perasaan cinta seorang kakak terhadap adiknya. Demikian pula perasaan-perasaanku yang lainnya padamu, akan kukubur kembali dalam lubang yang lebih dalam agar tak tumbuh kembali.” Kali ini air matanya tak tertahankan. Dia menangis dengan suara yang di tahan-tahan, karena khawatir tangisannya akan mengganggu orang-orang yang ada disekitarnya.
            “Asih…,” Dia melanjutkan kembagi.  “Jangan marah kalau aku mengatakan saying padamu. Mungkin hanya disinilah akau dapat melakukannya, dan mungkin inilah saat-saat terakhir aku mengatakannya padamu. Sebagai curahan hatiku yang terakhir, simaklah kembali puisiku ini “


Virus-virus Rindu

Duh…,
Hati ini tak mau mengerti
Jiwa ini tak mau peduli
Padahah
Tanda-tanda telah Nampak jelas
Terwujud dalam tindak dan raut
Namunpenghapusan gambar dikalbuku
Sulit sekali

Dalam dada ini
Tak tersimpan dendap penggempur
Tak tersimpan angan penghancur
Namun
Disini
Dua kekuatan berontak kuat
Genggam
Lepaskan
Tubuhku bergoncang, berbetar

Duh …,
Seandainya mereka tahu
Alangkah malunya aku
Terbayang …
Oh
Tidak
Itu tidak boleh terjadi
Biarlah virus-virus rindu merusak tubuhku
Asalkan mereka tak tahu

            Selesai menuliskan puisi itu, dia baca ulang isi surat tersebut dari awal hingga akhir.  Hatinya terasa lebih lega, karena semua perasaannya telah dia tuangkan melalui tulisan. Kini tinggal keberaniannya mengirimkan surat itu kepada Asih, si pemilik wajah sendu yang disebut dalam salah satu puisinya.

Leave a Reply

Bagaimana pendapat anda ? Diisi yach kotak komentarnya..
thanks