Keep Our Brotherhood

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
Selamat Datang di Blog Saya dan terima kasih atas kunjungannya, jangan lupa kasih sarannya di Guestbook yach
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Pendidikan ; Dalam kacamata Umum dan Agama Islam

Posted by Bud-Kar Blog - -

Pendidikan sangat penting dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Sifatnya mutlak dalam kehidupan, baik dalam kehidupan seseorang keluarga maupun bangsa dan Negara. Maju mundurnya suatu bangsa banyak ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan bangsa ini.
Mengingat sangat pentingnya bagi kehidupan, maka pendidikan harus dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga memperoleh hasil yang diharapkan. Untuk melaksanakan pendidikan harus dimulai dengan pengadaan tenaga pendidik sampai pada usaha peningkatan mutu tenaga pendidik.  Kemampuan guru sebagai tenaga kependidikan, baik secara personal, social maupun professional harus benar-benar dipikirkan karena pada dasarnya guru langsung melaksanakan kependidikan dan sebagai ujung tombak keberhasilan suatu pendidikan.
Istilah pendidikan adalah terjemahan dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie. Paedagogie asal katanya adalah pais yang artinya “anak” dan again yang terjemahannya adalah “membimbing”.  Dengan demikian, maka paedagogie berarti “bimbingan yang diberikan kepada anak”.  Orang yang memberikan bimbingan kepada anak disebut paedagog.  Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie tersebut berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia dewasa. Dalam perkembangan selanjutnya, pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan kehidupan yang lebih tinggi.
Di Indonesia, proses pendidikan secara umum dilakukan dalam bentuk kegiatan belajar mengajar (KBM), hal ini dapat dilihat dari lembaga-lembaga pendidikan yang ada di negara ini mulai dari lembaga pendidikan yang bersifat keagamaan seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan lain sebagainya.  Adapun yang bersifat umum seperti Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan lain sebagainya.  Dari berbagai macam lembaga pendidikan ini biasa diberikan dalam bentuk materi pengetahuan, keterampilan dan latihan. Semua hal yang diberikan tersebut tertuang dalam proses belajar mengaja. Hasil yang diharapkan dari proses belajar mengajar adalah hasil belajar atau prestasi belajar. Istilah prestasi belajar diberikan kepada keadaan yang menggambarkan tentang hasil yang optimal dari suatu aktifitas belajar.
Adapun pengertian prestasi belajar adalah “penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran yang lazim diberikan dengan test atau angka yang diberikan oleh guru.
Prestasi belajar dalam bentuk konkrit pemberian angka nilai dari guru kepada siswa sebagai indikasi sejauh mana siswa tersebut telah menguasai materi pelajaran yang diberikan adalah ikut menentukan dan mendorong siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Kendatipun demikian adalah benar-benar bahwa prestasi belajar yang berupa angka nilai tersebut hanya merupakan salah satu indikasi dari data atau informasi akibat kegiatan evaluasi dalam pengajaran. Oleh karena itu, guru kelas harus objektif dalam menentukan dan mendorong siswa untuk meningkatkan hasil belajar tersebut.
Penguasaan materi atau keterampilan yang dimaksud meliputi tiga aspek yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan). Ketiga aspek tersebut akan dituangkan dalam buku laporan siswa yang berupa raport.
Dalam aspek kognitif siswa diharapkan memiliki kemampuan yang meliputi kemampuan pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisa, sintesis dan evaluasi.
Aspek afektif merupakan aspek yang menunjukkan kemampuan bersikap yang tampak dalam berperilaku. Aspek afektif dicapai melalui lima tahapan, yaitu pengenalan, pemberian respon, penghargaan terhadap nilai, pengorganisasian dan karakteristik dari nilai yang kompleks.
Adapun aspek psikomotorik merupakan aspek yang menunjukan kemampuan kerja otot, sehingga menyebabkan bergeraknya tubuh atau bagian-bagiannya. Yang termasuk  dalam aspek psikomotorik ini adalah mulai dari gerak yang paling sederhana sampai pada gerak yang memerlukan adanya pengorganisasian yang baik.
Prestasi belajar sebagai salah satu dari data atau informasi yang diwujudkan dengan angka nilai (kegiatan evaluasi pengajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor). Fakto-faktor tersebut mempengaruhi tercapainya prestasi belajar. Oleh karena itu, dalam hal ini guru kelas dituntut untuk berlaku dialogis dan interaktif dalam menghadapi siswanya.
Para pakar pendidikan mengungkapkan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dibagi dalam dua faktor, internal dan eksternal.
Faktor internal terdiri dari : faktor jasmaniah (fisiologis), faktor psikologi yang terdiri dari : faktor intelektif dan faktor non intelektif serta faktor kematangan fisik dan psikis.
Sedangkan faktor eksternal terdiri dari  :  Pertama, faktor social yang terdiri dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan kelompok. Kedua, faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kesenian.  Ketiga, faktor instrumental (lingkungan fisik) seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar dan iklim. Keempat, faktor lingkungan spiritual dan keagamaan.
Dengan memenuhi faktor-faktor tersebut diharapkan siswa menjadi manusia yang seutuhnya dengan kata lain menjadi manusia yang berdaya guna agar dapat mengelola dan mengembangkan sumber daya alam yang melimpah ruah di negeri ini untuk lebih memajukan dan meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.
Sejarah menunjukkan bahwa faktor yang paling menentukan keberhasilan suatu bangsa bukanlah kekayaan alam yang dimilikinya, melainkan kualitas sumber daya manusia. Sebagai insan dengan segala keutuhannya (human being as a whole), dengan segenap daya yang ada pada dirinya yaitu daya pikir, daya dzikir dan daya moral. Dengan faktor tersebut, maka pendidikan dengan penekanan terhadap pembentukan sumber daya manusia yang utuh dan siap bersaing dalam era pasar bebas sangatlah diperhatikan dan perlu dijalankan dengan segenap kemampuan yang ada dan untuk menciptakan manusia yang utuh tersebut maka diperlukanlah tenaga yang profesional dalam bidang pendidikan yang dapat mencetak manusia seperti yang dibutuhkan di atas.
Profesi guru pada saat ini masih banyak yang dibicarakan orang – orang atau masih saja dipertanyakan orang, baik dikalangan pakar pendidikan maupun diluar pakar pendidikan, bahkan selama dasawarsa terakhir ini hampir setiap hari, mrdia massa khususnya media massa cetak harian maupun mingguan memuat berita tentang guru.  Ironisnya, berita – berita tersebut banyak yang cenderung melecehkan posisi guru, baik yang sifatnya menyangkut kepentingan umum sampai kepada hal –hal yang sifatnya sangat pribadi, sedangkan dari pihak guru sendiri tak mampu membela diri.
Masyarakat atau orang tua muridpun kadang–kadang mencemoohkan dan menunding guru tidak kompeten, tidak berkualitas dan sebagainya, manakala putra/I mereka tidak bisa menyelesaikan persoalan yang dihadapinya sendiri atau tidak memiliki kemampuan yang sesuai dengan keinginan orang tua.
Menurut Nana Sujana, rendahnya pengakuan sebagian masyarakat terhadap propesi guru disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1.    Adanya pandangan sebagian masyarakat bahwa siapapun dapat menjadi guru asal ia berpengetahuan.
2.    Kekurangan guru di daerah terpencil, memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak mempunyai keahlian untuk menjadi guru.
3.    Banyak guru yang belum menghargai profesinya, apalagi berusaha mengembangkan profesi tersebut. Perasaan rendah diri karena menjadi guru. Penyalahgunaan profesi untuk kepuasan dan kepentingan pribadi sehingga wibawa guru semakin merosot.
Dan jika dikaitkan kembali dengan industrialisasi yang sedang berkembang dengan kemajuan  IPTEK, banyak dari kalangan industrialisasi/bisnis pun memprotes para guru karena kualitas para lulusan dianggapnya kurang memuaskan bagi kepentingan perusahaanya. Dimata para murid-muridpun khususnya disekolah menengah di kota-kota pada umumnya cenderung menghormati gurunya hanya dikarenakan ingin mendapatkan nilai yang baik atau naik kelas/lulus ujian nasional (UAS) dengan peringkat tertinggi tanpa kerja keras. Tentu saja tuduhan dan protes dari berbagai kalangan tersebut akan merongrong wibawa guru bahkan cepat atau lambat, pelan tapi pasti akan menurunkan martabat guru. Akankah demikian nasibmu wahai pahlawan tanpa tanda jasa ?
Guru yang dalam pandangan tradisional adalah sebagai orang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan atau pengertian yang lebih singkat lagi yaitu manusia yang digugu dan ditiru, akan hilang eksistensinya dengan kritikan dan hujatan yang ada dan silih berganti datangnya. Untuk menjawab semua tantangan dan kritikan yang ada dan terus bertambah tersebut, guru sebagai tenaga ahli untuk membentuk manusia seutuhnya disekolah sangatlah perlu diperhatikan kualitas dan profesionalitasnya.Tanpa kejelasan keduanya maka tidak akan tercapai pembentukan sumber daya manusia yang diharapkan dari siswa yang menggali ilmu dalam suatu lembaga tersebut.
Dalam al-quran pun diungkapkan bahwa seseorang harus menjadi seseorang yang berpengetahuan sebagai bahan untuk mendidik generasi berikutnya. Hal ini dapat dilihat dalam surat At-Taubah ayat 122, yang berbunyi :

Artinya:   Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (Qs. At-Taubah : 122)

Sebagaimana yang tertulis dalam ayat-ayat al-quran yang lain yang tidak  dapat disimpulkan disini, terdapat empat hal yang berkenaan dengan guru. Pertama ; seorang guru harus memiliki tingkat kecerdasan intelektual yang tinggi, sehingga mampu menangkap pesan-pesan ajaran, hikmah, petunjuk dan rahmat dari segala ciptaan Tuhan, serta memiliki potensi batiniyah yang kuat sehingga ia dapat mengarahkan hasil kerja dari kecerdasannya untuk diabadikan kepada Tuhan. Kedua ; seorang guru harus dapat mempergunakan kemampuan intelektual dan emosional spiritualnya untuk dapat memberikan peringatan kepada manusia lainnya sehingga manusia-manusia tersebut dapat beribadah kepada Allah Swt. Ketiga ; seorang guru harus dapat membersihkan diri orang lain dari segala perbuatan dan akhlak tercela. Keempat ; seorang guru harus berfungsi sebagai pemelihara, Pembina, pengarah, pembimbing dan pemberi bekal pengetahuan, pengalaman dan keterampilan kepada orang-orang yang memerlukannya.
Dari penjelasan di atas, tampak bahwa al-quran mengisyaratkan perlunya pendidik yang professional (berkualitas) dan bukan pendidik  non professional (pendidik yang asal-asalan).  Hal ini dapat dari isyarat Rasulullah Saw dalam haditsnya yang menjelaskan bahwa “apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” Hal ini sejalan dengan firman Allah yang berbunyi : “katakanlah hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya Aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui.” (Al-Zumar : 39).
Guru yang demikianlah, guru yang patut dihormati, dibina, dikembangkan dan semakin diperbanyak jumlahnya.

Leave a Reply

Bagaimana pendapat anda ? Diisi yach kotak komentarnya..
thanks